Desi Martika Vitasari

Follow your heart, live your passion, and you'll find the meaning of life :)

  • 16th April
    2014
  • 16
"Emang kalau Tarbiyah harus pilih PKS, Kak?"

bigzaman:

Sebuah pertanyaan menarik dari sebuah grup WA malam kemarin dari seorang teman, membuat grup tersebut cukup dinamis semalam dan cukup panjang pembahasannya. Dan akhirnya pertanyaan ini pun mengusik pikiran saya. Sebagai seorang simpatisan sejati #azeeeg , pertanyaan ini membuat saya termenung…

Jika kamu belum menentukan, mungkin artikel ini bisa mencerahkan :) hmm, life is a choice :)

  • 15th April
    2014
  • 15
Allah, jadikan setiap harap agar tak berlebihan, agar setiap rasa selalu dalam kadarnya, agar tiap cita tetap terbingkai dalam niatnya..

Allahumma aamiin :)

(via bigzaman)

  • 15th April
    2014
  • 15

Tak perlu risau mempelajari gerakan feminisme, pluralisme, perlindungan LGBT, kebebasan beragama, atau teori lain yang dianggap menyimpang dari prinsip hidupmu. Percayalah tak pernah ada pergulatan ideologi selama engkau telah memilih Islam dengan penuh kesadaran dan kepahaman sebagai jalan terbaik :)

Bahkan jika di masa depan engkau harus mendampingi kasus LGBT atau Ahmadiyah, sungguh itu bukan sesuatu yang engkau takutkan. Karena yang engkau perjuangkan adalah hak-hak yang terabaikan, bukan kesalahan yang seringkali dipandang kejam.

(Percakapan dengan diri sendiri di malam purnama yang sempurna)

Bintara, 15 April 2014

@desimarch

  • 12th April
    2014
  • 12
Untuk Sementara Waktu

KIta masing-masing sendiri untuk sementara waktu. Kesabaran adalah hal terbaik yang bisa kita pertahankan saat ini. Untuk sementara waktu saja. KIta biarkan hidup kita berjalan sendiri-sendiri. Meski kita merasakan hal yang sama saat ini. Biarkan saja itu mengalir seperti hujan yang jatuh.

Bersabar saja. Kelak akan datang masanya. :)

  • 12th April
    2014
  • 12
  • 12th April
    2014
  • 12
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membebaskan
Paulo Freire, tokoh yang mengkritik sistem pendidikan di Brasil dimana anak didik hanya dilihat sebagai “objek” untuk menampung dalil pengetahuan, bukan “subjek” yang dinamis dan kreatif
  • 12th April
    2014
  • 12

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata advokat?

Mereka yang sering nongol di televisi kalo ada artis cerai, sengketa warisan atau kecelakaan. Tampil dengan jas mahal (maksa banget padahal di pengadilan juga panas), mobil mewah, gonta ganti pasangan, ngomong ini itu dengan emosional.

Oh, ternyata ada sesuatu yang belum kamu ketahui..

Advokat merupakan salah satu profesi tertua sekaligus officium nobile (profesi mulia). Dahulu advokat lah yang melakukan pembelaan kepada bumi putera saat berhadapan dengan hukum kolonial yang menindas.

Namun kini agaknya kemuliaan profesi advokat mulai meluntur. Mafia peradilan seringkali terjadi. Bahkan seorang ketua hakim konstitusi pun jual beli perkara. Perkembangan hukum menjadi sangat lamban. Dalil hukum, teori hukum, argumen hukum yang ku pelajari bertahun-tahun di bangku kuliah menjadi tak ada artinya. Semua bisa ditaksir dengan uang. Apakah itu tidak dapat disebut pelecehan intelektual?

Pada akhirnya masyarakat yang menjadi korban. Kehilangan haknya serta tak mendapat akses untuk pembelaan hukum. Mereka digusur secara paksa. Mereka diberhentikan dari pekerjaan tanpa uang saku yang layak. Mereka ditangkap, ditahan, disiksa secara sewenang-wenang atas kejahatan yang tidak dilakukannya. Mereka menjadi tuna wisma, pengangguran, atau mendekam di balik jeruji tanpa pembelaan sama sekali.

Lalu, siapa yang akan membela mereka?

Salah satu dari sekian banyak lembaga yang peduli terhadap mereka adalah LBH Jakarta. Sejak tahun 1970, LBH Jakarta telah berupaya untuk terus menciptakan akses pada masyarakat terkait pembelaan hukum. Kerja litigasi, riset, hingga turun ke komunitas untuk pemberdayaan melalui bantuan hukum struktural.

Mungkin itulah alasan yang terus menguatkanku untuk tetap berada di sini. Selama puluhan hari memaksa otak bekerja memahami materi. Meluaskan perspektif dengan diskusi.

Aku berharap dapat bertemu guru-guru kehidupan yang sesungguhnya di sini. Mereka yang berjasa besar tetapi namanya tak pernah dicatat dalam sejarah, mereka yang lemah dan dilemahkan.

Ya, karena sesungguhnya aku berhutang besar pada mereka :”)

Bintara, 12 April 2014

@desimarch

(terinspirasi dari sambutan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Febi Yonesta pada pembukaan Kalabahu 1 April 2014)

  • 9th April
    2014
  • 09
Kepadamu, ku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya..
Terima kasih telah membersamaiku selama ini :’) 
Percayalah, satu jiwa dalam dua raga tak pernah mengenal kata berpisah..

P.S. Umeeee aku rindu buangeeet alay bersama kamu :3 pesanku kalo kamu kerja di korporasi, plis banget di korporasi yang care sama lingkungan dan gak menindas masyarakat sekitarnya ya :’) Jangan lupa.. perjalanan kita masih sangat panjaaaaaang, sayang :)

Kepadamu, ku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya..

Terima kasih telah membersamaiku selama ini :’) 

Percayalah, satu jiwa dalam dua raga tak pernah mengenal kata berpisah..

P.S. Umeeee aku rindu buangeeet alay bersama kamu :3 pesanku kalo kamu kerja di korporasi, plis banget di korporasi yang care sama lingkungan dan gak menindas masyarakat sekitarnya ya :’) Jangan lupa.. perjalanan kita masih sangat panjaaaaaang, sayang :)

  • 9th April
    2014
  • 09

Kontemplasi

Aku hidup di suatu masa dimana keberpihakan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Butuh proses belajar yang tekun dan waktu yang tak sebentar hingga engkau dapat memilikinya..

..aku hanya ingin dekat dengan mereka. Aku hanya ingin bermanfaat dengan sedikit yang ku punya. Itu sudah lebih dari cukup.

:’)

  • 7th April
    2014
  • 07

Buruh, nelayan, petani, masyarakat hukum adat, kaum difabel, anak-anak lugu yang putus sekolah dan mereka yang termarginalkan lainnya

Entah sejak kapan, mereka menjadi daftar nama panjang yang selalu ku sebut dalam doa..

Ya Rabb, berkahi negeriku.. dengan kekayaan alam yang telah banyak kau titipkan pada kami